Tuesday, October 16, 2012

Latte Art, Seni Menuang Imajinasi di Cangkir Kopi

0

Ukiran Nama Favorit Pengunjung

Bagi pecintanya, kopi bukan sekadar minuman pengusir kantuk. Aroma dan rasanya adalah seni yang kaya yang tak habis digali. Secangkir kopi bahkan dapat menjadi kanvas untuk menuangkan imajinasi.

Wahyu (22) menggoreskan logam berujung lancip yang sudah dicelup cokelat di atas busa putih yang memenuhi permukaan secangkir cappuccino. Goresannya membentuk dua lingkaran yang agak berantakan. Kedua lingkaran lalu ditarik-tarik hingga membentuk helai-helai kelopak. Terakhir ia membuat bulatan kecil di tengah cangkir dan diberi bintik-bintik. Voila! Jadilah bunga matahari.
“Latte art lebih cantik pakai cokelat. Selain itu, hasilnya jadi lebih tahan lama,” kata barista atau peracik kopi di sebuah kedai kopi di bilangan Jl Kampung Melayu Darat itu.
Latte art adalah istilah untuk menyebut gambar atau pola di permukaan kopi, khususnya espresso. Berkembang di Italia pada akhir era 1980-an, latte art mulai marak di  diterapkan sejumlah kedai kopi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
“Pernah ada pengunjung minta gambar naga, itu paling susah. Pertama bikin kacau, pas mau gambar semburan api  eh jadinya paruh, malah lebih mirip bebek. Tapi setelah diulang lagi bisa,” kisah Wahyu.
Baru dua bulan lalu mahasiswa semester lima di Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari itu belajar membuat latte art. Jiwa seni lukisnya membantu kelincahan tangannya melekuk-lekukkan busa hingga membentuk pola-pola menawan. Sekali lagi Wahyu mendemonstrasikan keahliannya.
Busa dituang membentuk enam bulatan putih kecil dengan komposisi membentuk lingkaran. Keenam bulatan tadi lalu ditoreh di tengah-tengah searah jarum jam. Ajaib! Bulatan-bulatan itu berubah menjadi serupa dedaunan yang mengambang di permukaan air.  
“Ini salah satu pola yang paling sederhana,” ujarnya.
Meski di Banjarmasin kedai kopi makin menjamur, tapi baru segelintir saja yang memasukkan latte art dalam daftar menu. Berry Junaedy (27), sang pemilik kedai kopi menuturkan, itu karena membuat latte art memakan waktu. Makin rumit polanya, makin lama juga penyajiannya.
“Perbandingannya, waktu untuk membuat satu porsi bisa untuk menyelesaikan tiga minuman biasa. Bisa lebih kalau latte art-nya rumit,” kata ayah satu anak yang jatuh cinta dengan kopi sejak menjadi barista di sebuah kafe di Surabaya selepas lulus kuliah perhotelan pada tahun 2005 itu.
Dituturkan arek Suroboyo yang hijrah ke Banjarmasin tahun 2008 tersebut, inti dari latte art adalah permainan foam atau busa. Busa ini dihasilkan dari susu cair yang di-steam. Inilah tahap paling penting sekaligus menentukan dalam pembuatan latte art.
Jika busa yang dihasilkan kasar dan tidak menyatu, maka latte art gagal. Hal itu bisa terjadi jika ada perlakuan yang kurang tepat selama steam berlangsung, misalnya air yang disemprotkan oleh mesin terlalu banyak. Untuk menghasilkan busa yang baik dan lembut, susu cair yang digunakan juga harus berkualitas.
“Dalam bahasa Italia, latte artinya susu. Sebenarnya pakai susu dikasih foam tanpa kopi bisa membuat latte art. Fungsi kopi lebih untuk memberi garis yang lebih tegas, ibaratnya sebagai tinta,” terangnya.
Dalam pembuatan latte art, gelas yang akan dipakai untuk penyajian dipanaskan terlebih dulu. Menurut Berry, maksudnya untuk menyamakan dengan suhu kopi yang nanti dituang agar rasa kopi tidak langsung ‘terbuka’.  Setelah didiamkan 5-10 menit, barulah kopi dituang. Saat menuang kopi dari mesin, bibir cangkir harus ditempelkan.
“Kalau tidak, crema (minyak hasil penggilingan kopi yang muncul dalam bentuk gelembung saat kopi diseduh air, Red) yang terbentuk besar-besar dan ikut naik ke permukaan, latte art-nya jadi nggak bagus,” imbuhnya.
Selanjutnya, giliran susu yang telah di-steam dituang ke dalam cangkir. Terakhir, busa yang tertinggal di dasar gelas yang dipakai dalam proses steam ditata di permukaan paling atas cangkir sesuai pola yang ingin dibuat. Perbandingan kopi, susu, dan busa masing-masing sepertiga dari ukuran cangkir.
Dijelaskan Berry, secara garis besar ada dua teknik membuat latte art. Pertama, sistem tuang dengan cara mengatur jatuhnya susu dan busa sedemikian rupa sehingga membentuk pola. Kedua, digambar secara manual dengan bantuan tusuk gigi atau bilah. Untuk lebih mempercantik, terkadang barista menambahkan cokelat atau sirup. Latte art bisa bertahan rata-rata 10-15 menit.
 “Banyak gambar yang bisa dibuat. Tapi kebanyakan pengunjung di sini pesannya tulisan nama mereka dan nama pasangannya,” katanya.
Setiap cappuccino yang dipesan pengunjung di kedai kopi milik Berry biasanya selalu diberi latte art walau si pemesan tidak meminta. Sejumlah pengunjung yang awam tentang latte art pun dibuat surprised saat cappuccino mereka diantar lengkap dengan hiasan nama mereka di atasnya. Di samping belum banyak kedai kopi di Banjarmasin yang menyajikannya, tampaknya latte art sendiri belum terlalu populer di kuping sebagian warga Banjarmasin. Eva (25) salah satunya.
“Baru sekali ke sini, mau coba cappuccino-nya aja. Nggak pesan pakai tulisan nama segala, soalnya nggak tahu. Tapi tadi pas pesan ditanya sih atas nama siapa,” ucap karyawan swasta di salah satu perusahaan di Banjarmasin itu. 

No Response to "Latte Art, Seni Menuang Imajinasi di Cangkir Kopi"