Thursday, August 30, 2012

Menengok Rumah Singgah Anak Kanker “Rumahku”

0



Tak Perlu Bolak-balik, Makan Tidur Gratis

Wine (3,5) berbaring di kasur di ruangan tengah. Badannya yang dibalut kaos Shaun the Sheep warna kuning pudar tampak kurus, tapi perutnya agak buncit. Matanya menatap ke televisi yang menyala. Selang kecil bening mencuat dari hidungnya.

“Nanti tanggal 30 harus kontrol ke rumah sakit lagi,” kata Sari (36), ibu bocah penderita leukemia itu.

Sudah enam hari Wine yang ditemani ibu dan neneknya menginap di Rumah Singgah Anak Kanker “Rumahku” di Jl Kampung Melayu Darat Gg Kenari Raya Banjarmasin. Sebelumnya, hampir lima minggu bungsu dari dua bersaudara itu dirawat di RSUD Ulin. Setelah kondisinya membaik, Wine dibolehkan rawat jalan.

“Syukur di sini mau menerima, kami dari Ampah Tamiang Layang, sekitar sembilan jam jauhnya. Di Banjarmasin tidak ada keluarga,” cerita Sari.

Kalau harus pulang ke kampung, tentu berat di ongkos. Sedang pekerjaan suaminya hanya sopir truk. Di samping itu, Sari khawatir kesehatan Wine  tiba-tiba drop. Selain tak perlu memikirkan biaya transport, Sari dan orangtua pasien kanker lainnya yang tinggal di rumah singgah juga bisa tidur dan makan gratis.

Rumah Singgah Anak Kanker “Rumahku” berdiri hampir setahun lalu. Tujuannya untuk meringankan beban keluarga anak penderita kanker yang harus bolak-balik berobat. Sayang, saat Radar Banjarmasin berkunjung kemarin (28/8), Santi Mulis, inisiator Rumah Singgah Anak Kanker “Rumahku” sedang di luar daerah.

Mengutip informasi dari website Yayasan Kami Peduli Indonesia (YKPI) –yayasan sosial yang dibentuk Santi dan beberapa sahabatnya sesama alumni SMA Katolik Santa Agnes Surabaya, ide mendirikan rumah singgah anak kanker berawal dari kunjungan mereka ke lokasi anak-anak penderita kanker di Jakarta. Santi juga terinspirasi dari salah seorang temannya yang memiliki anak penderita kanker.  Selain di Banjarmasin, rumah singgah sejenis juga ada di Surabaya. Profil Santi Mulis bahkan pernah dimuat di harian Jawa Pos.

Di Rumah Singgah Anak Kanker “Rumahku” ada tiga orang staf yang bahu-membahu melayani segala keperluan anak-anak penderita kanker beserta keluarganya yang tinggal di sana. Salah seorang diantaranya Lemi, tugasnya berkoordinasi dengan RSUD Ulin kalau ada pasien yang perlu tumpangan sementara atau mengantar jemput pasien kemoterapi.

“Selama setahun ini kira-kira ada 20 anak yang masuk, silih berganti. Selain kanker, ada juga tumor dan  gagal ginjal. Kalau tidak masuk Jamkesmas, rumah singgah yang menanggung biaya pengobatannya,” tuturnya.

Beberapa dari anak-anak tersebut ada yang masuk dalam kondisi sudah stadium lanjut, ada juga masih stadium awal. Sebagian berhasil sembuh, tapi sebagian lagi tak sanggup bertahan meski sudah berjuang melalui serangkaian pengobatan.

“Kalau Wine ini belum parah, masih besar harapan sembuh. Waktu datang pertama kali kakinya tidak bisa diluruskan. Wajahnya sangat pucat, badannya bengkak-bengkak, ngeri melihatnya. Sekarang agak mendingan, dia juga banyak senyum walau masih sakit,” sambung Lemi.

Wine yang waktu di rumah sakit mogok makan, setelah tinggal di rumah singgah justru jadi banyak makan. Seperti siang itu, dengan lahap Wine menyantap sate yang dibelikan sang ibu. Padahal, beberapa waktu sebelumnya Wine baru saja makan nasi. Tapi Wine tak mau minum susu lewat mulut, makanya dipasang selang lewat hidungnya.

“Ada anak yang dirawat di rumah sakit sampai minta bawakan nasi dari rumah singgah. Katanya anak-anak di sana kalau dengar suara troli membawa makanan ke kamar mereka, masing-masing langsung tutup telinga,” kisah Yana, staf rumah singgah lainnya yang bertugas mengurus rumah dan menyiapkan makanan.

Di Rumah Singgah Anak Kanker “Rumahku” terdapat lima buah kamar, dua diantaranya yang berada di bagian depan berkapasitas besar yang bisa menampung tiga keluarga. Perabotnya minimalis, hanya ada tumpukan kasur dan lemari plastik kecil. Sedang di ruangan tengah ada sofa, TV, dan lemari penuh berisi buku-buku bacaan dan aneka mainan anak.

Untuk kebutuhan MCK, disediakan enam kamar mandi dan WC. Di bagian belakang ada tempat terbuka yang cukup lapang untuk menjemur pakaian. Tiga buah sepeda mini dan kuda-kudaan tampak tergeletak di salah satu sudut. Kalau anak-anak bosan makan di dalam rumah, kadang mereka disuapi di sini sambil menggelar tikar.

Di halaman rumah singgah, sebuah mobil terparkir dan siap mengantar jemput pasien selama 24 jam. Baik ke rumah sakit maupun kalau keluarga pasien ingin pulang tapi tidak memiliki biaya. Apalagi yang berasal dari luar daerah, tak hanya di seputar Kalimantan Selatan, tapi hingga ke Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Seperti Jasmah (30), saat anaknya Bahrudin (4,7) –akrab disapa Udin yang juga sakit leukemia bisa meninggalkan rumah sakit saat lebaran lalu, staf rumah singgah mengantar keluarga petani ini pulang ke Kurau. Setelah 13 hari, mereka dijemput lagi karena Udin harus kembali ke rumah sakit mulai Senin (27/8).

“Belum tahu berapa lama harus begini. Untung berobat tidak bayar, paling untuk makan saja. Kalau tidak ada uang, saya ke sini (rumah singgah, Red). Ibu Santi nggak minta apa-apa, cuma liat anak saya senyum dia sudah senang,” ucap Jasmah.

Selama mengabdi di rumah singgah, baik Lemi dan Yana mengalami banyak suka duka. Saat terberat tentu saja saat ada anak penderita kanker yang tak bisa diselamatkan.

“Tidak selalu anak yang meninggal itu penyakitnya sudah parah. Pernah ada anak yang masih stadium awal, sebelumnya masih sehat, saya ingat dia minta menggambar. Tiba-tiba dia sakit kepala, drop, langsung meninggal,” kenang Lemi.

Lain lagi dengan Yana. Setelah banyak bergaul dengan keluarga anak penderita kanker, setiap hari ia merasa diingatkan untuk bersyukur karena memiliki anak-anak yang sehat. Sampai-sampai suaminya juga tergerak untuk ikut membantu di rumah singgah tanpa dibayar.

“Dulu dengan keadaan ekonomi yang sulit, suka mengeluh. Sekarang banyak-banyak bersyukur karena ada orang lain yang kondisinya jauh lebih sulit,” ucapnya. 

Mulai Buku Bacaan Hingga Rayakan Ultah

Selain menyediakan tempat tinggal sementara, Rumah Singgah Anak Kanker “Rumahku” juga melayani kebutuhan pasien di rumah sakit. Salah satunya, menghibur agar anak-anak itu tak bosan selama menjalani perawatan panjang menuju kesembuhan.

“Mana lilinnya?” celetuk Ainu (5) sambil menatap girang kue ulang tahunnya yang baru dikeluarkan dari kotak.

Senyum bocah itu tak hilang-hilang sejak Lemi dan Yana –staf Rumah Singgah Anak Kanker “Rumahku” muncul di unit hematologi (khusus anak-anak pengidap penyakit kelainan darah) Ruang Anak Sedap Malam RSUD Ulin Banjarmasin, Rabu (29/8) siang. Hari itu, keinginan Ainu merayakan ulangtahun tercapai.

“Mulai tadi nanya terus, mana kuenya nggak datang-datang. Kalau nggak jadi katanya mau nangis,” kata Sus Winasih, ibu Ainu.

Ainu pun tertawa memperlihatkan gigi-gigi atasnya yang jarang-jarang. Setelah lilin siap, para perawat lantas dipanggil untuk berkumpul di dalam ruangan. Bersama-sama lima pasien lain teman sekamar Ainu, mereka kompak menyanyikan lagu selamat ulang tahun sambil bertepuk tangan. Dari rumah singgah, Ainu mendapat kado mainan Angry Birds.

“Makasih!” seru Ainu sambil memeluk hadiahnya.

Kue ulang tahun berlapis krim cokelat itu kemudian dipotong-potong. Ainu ingin kuenya dibagi untuk semua orang yang ada di ruangan. Potongan pertama diberikan kepada sahabatnya, Udin (7), sesama penderita leukemia yang ranjangnya bersebelahan.

“Baru kali ini kita merayakan ulang tahun di sini. Soalnya baru ini yang pas ulang tahun, dan kebetulan anaknya sendiri yang minta,” seloroh Lemi.

Kepala Ruangan Ibrahim mengatakan, apa yang dilakukan Rumah Singgah Anak Kanker “Rumahku” sangat membantu baik bagi pasien maupun rumah sakit. Selain menyediakan rumah singgah, mereka juga kerap membawakan mainan dan buku bacaan untuk anak-anak yang sedang dirawat agar tak bosan.

Pengobatan yang harus dilalui anak-anak seperti Ainu memakan waktu lama, normalnya 120 minggu atau 2,5 tahun kalau daya tahan tubuh anak stabil. Sementara ini metode pengobaan yang bisa dilakukan untuk penderita kanker di dalam negeri memang hanya kemoterapi, untuk transplantasi sumsum tulang harus ke luar negeri, paling dekat Singapura atau Taiwan.

Fase pertama yang diistilahkan protocol berlangsung sekitar empat bulan, tiap seminggu sekali anak dikemoterapi. Kalau fase ini lewat, sama artinya masa gawat juga lewat. 

“Seperti Ainu masih fase ini, tapi stadium awal sehingga masih besar kemungkinan sembuh. Dia masuk mulai April 2012, berarti sudah lima bulan. Kadang saat mau masuk obat (kemoterapi, Red) kondisi anak drop, biasanya karena makanan atau tertular penyakit dari orang lain. Itu yang membuat pengobatan jadi lama,” tuturnya.

Setelah lewat fase pengobatan pertama, pasien akan memasuki fase kedua yang disebut maintenance. Pasien akan lebih banyak di rumah dan mengonsumsi obat tablet, hanya sesekali kemoterapi di rumah sakit. Dua fase ini lewat, maka pasien dinyatakan sembuh, tapi tetap harus kontrol rutin.

“Secara statistik memang semakin cepat penyakit terdeteksi, semakin besar kemungkinan sembuh. Tapi selalu ada pengecualian, ada juga yang masuk saat sudah parah, tapi bisa menyelesaikan pengobatan,” tukasnya.

Kondisi pasien penderita kanker seperti Ainu dan teman-temannya memang sulit diprediksi. Karena itu, para dokter dan perawat memiliki prinsip agar semua pasien dan keluarganya selalu happy selama di rumah sakit.

“Prinsipnya jangan sampai betangisan, bawa happy. Karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi besok,” ucapnya.

Tak berhenti hanya pada menghibur anak-anak, rumah singgah juga kerap ikut berburu donor jika ada anak yang perlu tambahan darah.  Kalau ada obat-obatan yang tidak ditanggung jaminan kesehatan seperti Jamkesmas, rumah singgah pula yang menanggung. Kalau obatnya kosong, mereka membantu mencarikan.

“Dulu kalau orangtua sudah tak sanggup lagi membeli obat, terpaksa tidak kita berikan. Soalnya harganya mahal, kalau ditotal sekitar Rp 200 juta untuk pengobatan selama dua tahun. Tapi sekarang sudah enak,” pungkasnya.  

No Response to "Menengok Rumah Singgah Anak Kanker “Rumahku”"