Tuesday, June 5, 2012

Tak Pernah Upacara Bendera

0
MI Al Qalam, Ironi di Tengah Rumah Beton

BANJARMASIN – Sebanyak 84 orang siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Qalam tetap semangat belajar meski bangunan sekolah mereka seadanya. Di tengah rumah-rumah beton yang mengelilinginya, keberadaan sekolah ini sungguh sebuah pemandangan yang kontras.
Sekolah yang berlokasi di Jl Tembus Perumnas Komplek Berkah RT 42 Kelurahan Alalak Utara Kecamatan Banjarmasin Utara itu hanya berukuran 18x8 meter. Tak ada halaman, sehingga upacara bendera setiap hari Senin tak pernah diadakan. Atap sengnya sudah berlubang-lubang. Demikian pula dindingnya yang tersusun dari kayu.
Bangunan sempit itu disekat-sekat dengan triplek tipis menjadi kelas-kelas. Di salah satu ruang kelas, tripleknya tampak berlubang sehingga siswa yang kelasnya bersebelahan bisa saling melihat.
“Kalau belajar suaranya pasti terdengar ke kelas lain. Misalnya lagi belajar Bahasa Arab di salah satu kelas, gurunya mengajukan pertanyaan, yang di kelas lain kadang suka ikut menjawab,” ujar Kepala MI Al Qalam Nurjannah kepada Radar Banjarmasin, Sabtu (2/6).
MI Al Qalam berdiri sejak tahun 2005 di bawah Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Al Qalam. Nurjannah yang juga pemilik yayasan mengungkapkan, di sekitar sekolah banyak anak kurang mampu.
“Di sekolah lain kan mahal. Kalau di sini tidak bayar, hanya di awal masuk saja kami mintakan Rp 200 ribu. Setengahnya untuk menebus baju olahraga dan atribut sekolah, sisanya untuk pembangunan sekolah,” tuturnya.
Sejak awal berdiri, sekolah sempat beberapa kali pindah lokasi. Pertama yayasan dipinjami sebuah rumah di Komplek Herlina, sekitar 200 meter dari lokasi sekarang. Setelah satu tahun, sekolah pindah ke Komplek Berkah, tapi agak di dalam. Satu tahun kemudian, sekolah pindah lagi ke Komplek Herlina setelah ada masyarakat yang menghibahkan tanah. Tapi hanya bertahan setahun, sekolah lagi-lagi harus dipindah karena tak punya akses jalan akibat tertutup pemukiman baru.
“Ada yang jual tanah di sini, kita beli. Bangunan sekolah yang lama dibongkar, lalu dibawa ke sini,” sambungnya.
Selain dari lingkungan sekitar, siswa yang belajar di sini juga ada yang berasal dari Sungai Andai, bahkan hingga ke Handil Bakti. Rata-rata orangtua mereka bekerja sebagai buruh. Tak sedikit juga anak panti asuhan yang kebetulan berlokasi dekat sekolah.
Diungkapkan Nurjannah, pihaknya berencana mendirikan bangunan yang lebih representatif. Tiga kapling tanah di belakang sekolah sudah dibeli dari dana pribadi dan donasi orangtua murid serta para dermawan. Tapi masih dibutuhkan empat kapling lagi. Menurutnya beberapa kali proposal bantuan diajukan ke Kantor Kementerian Agama (Kemenag), tapi belum pernah ada tanggapan.
“Impian kami nanti bisa bangun sampai SMA, jadi anak-anak tidak perlu jauh-jauh sekolah,” ucapnya. 

Kemenag Kota Tak Anggarkan Rehab

Kepala Bidang Madrasah dan Pendidikan Islam (Mapenda) Kantor Kementerian Agama Kota Banjarmasin Burhan Noor yang dikonfirmasi Radar Banjarmasin mengatakan bahwa pihaknya sudah berupaya mengusulkan perbaikan seluruh madrasah yang rusak, baik ringan maupun berat.
“Masalahnya dana untuk rehab atau RKB (Ruang Kelas Baru, Red) di Kemenag Kota Banjarmasin sejak tahun 2010 sampai sekarang tidak pernah ada anggarannya. Yang ada hanya di provinsi,” terangnya.
Itupun, lanjutnya, dananya juga terbatas sehingga yang lebih mendesak yang diprioritaskan.
“Makanya kami juga berharap pemerintah daerah itu memerhatikan keberadaan madrasah,” katanya.
Pada tahun 2011, ada 10 sekolah di bawah Kemenag Kota Banjarmasin mulai Raudhatul Athfal (RA) sampai Madrasah Aliyah (MA) yang mendapat bantuan, baik untuk rehab maupun pembangunan RKB. Tapi jumlah dananya ia tak ingat persis. Sedangkan untuk tahun 2012, menurutnya belum ada informasi berapa dana yang dialokasikan.
“Di Banjarmasin ada 147 buah madrasah, mulai RA sampai Aliyah, terbanyak MI 61 buah. Yang kondisinya baik dan rusak perbandingannya 50 persen,” ucapnya. 

No Response to "Tak Pernah Upacara Bendera"