Sunday, May 20, 2012

Merangkai Kajang, Usaha Turun Temurun Warga di Tepi Sungai

0

Gudang Bata Pelanggan Setia

Akhir-akhir ini, langit mendung selalu membuat Mardiah (40) resah. Atap rumahnya yang terbuat dari daun rumbia atau kajang sudah mulai bocor di sana sini. Kalau hujan turun, air akan masuk ke dalam rumah. 

NAZAT FITRIAH, Marabahan


“Maunya diganti seng, tapi uangya belum ada,” ucap warga Kampung Sungai Biuku Kelurahan Sungai Andai Banjarmasin itu. 

Kajang yang menjadi peneduh penghuni rumah sederhana itu harus diganti minimal tiga tahun sekali. Kadang Mardiah membuat sendiri karena di kampungnya pohon rumbia tumbuh dengan semarak, tapi kadang juga membeli. Untuk seluruh bagian atap rumahnya yang berukuran 4x6 meter kira-kira diperlukan 500 keping atau bidang kajang. 
“Kalau beli, tahannya paling lama tiga tahun. Tapi kalau bikin sendiri, bisa sampai 4-5 tahun karena bisa ditebali,” katanya. 
Perajin kajang sendiri banyak ditemui di kampung-kampung tetangga, antara lain Desa Trantang di Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala.  Salah satu perajin kajang, Yamansudi (58) mengaku sudan menggeluti profesi itu selama 35 tahun. Ilmu merangkai kajang sendiri diturunkan orangtuanya yang juga perajin kajang.
“Orang di sini kan tinggal di pinggir sungai. Daripada kosong, tanah yang ada ditanami. Yang lain tidak mau tumbuh karena tanahnya rendah, akhirnya tanam rumbia. Dari batangnya bisa dibuat tepung sagu, daunnya dibikin atap,” tuturnya.
Tapi, membuat kajang hanyalah sambilan saja. Sedangkan pekerjaan utama adalah berhuma. Kalau sedang tidak sibuk di sawah, barulah pekerjaan itu dilakoni. Itupun kalau ada pesanan. 
“Sekali bikin tidak banyak, paling 50-100 bidang.  Hasilnya dijual ke pahandukan, lalu oleh mereka dijual lagi. Yang rutin ke gudang bata di Sungai Tabuk,” imbuhnya. 
Agar kajang lebih tahan lama, daun rumbia yang dipilih adalah daun yang sudah tua. Ciri-cirinya, tekstur daun keras dan warna hijaunya lebih gelap. Daun yang tua ini letaknya di ujung-ujung pelepah, sedangkan yang dekat pucuk ditinggal karena masih muda. 
“Setiap enam bulan sekali baru didarap.  Kurang dari itu terlalu cepat, daunnya tidak sampai tua,” ujarnya.
Selain di Desa Trantang, perajin kajang juga banyak dijumpai di Desa Semangat Bakti Kecamatan Alalak Kabupaten Batola. Sifatnya pun turun temurun. Setiap warga asli desa setempat pasti bisa merangkai kajang, mulai orang tua hingga anak-anak. 
“Yang asli sini pasti bisa mahambit,” cetus Sarah (25), salah seorang perajin kajang di Desa Semangat Bakti. 
Mahambit adalah istilah untuk menyebut kegiatan pembuatan kajang. Sedangkan kegiatan mengumpulkan daun rumbia untuk bahan merangkai kajang disebut mendaun. Sampai sekarang, menurut Sarah orangtuanya masih menjadi perajin kajang. Kakak Sarah, Mahmudah (33) juga mengikuti jejak ayah ibunya. Kalau suami-suami mereka sedang tidak ada pekerjaan, maka mahambit menjadi mata pencaharian utama. Bahkan, para lelaki itu juga ikut membantu. 
“Kami membuat kajang ini setiap hari. Sekali-sekali nanti ada orang datang ke sini untuk mengambil dan menjual lagi,” sambungnya.
Di kampung-kampung, rumah beratap kajang memang masih banyak.  Di samping itu, yang jadi langganan mereka adalah gudang bata dan rumah-rumah makan dengan konsep pondok yang belakangan ini menjamur. 
Dalam sehari, masing-masing bisa membuat antara 30-50 bidang kajang. Satu bidang bisa diselesaikan kira-kira 15 menit. Caranya membuatnya pertama-tama beberapa helai daun rumbia dilapis. Kemudian, daun dilipat dua dan disisipkan ke sebatang bambu. Daun lantas “dijahit” dengan sayatan batang bamban. Agar ikatan lebih kuat, bamban dikaitkan ke serutan pelepah daun rambai yang disebut bengkanak yang disisipkan di antara lipatan daun.
“Harga sebidang kajang sekarang Rp 12 ribu, dulunya Rp 10 ribu saja. Sekarang makin susah mencari bambu dan bamban,” pungkasnya. 

No Response to "Merangkai Kajang, Usaha Turun Temurun Warga di Tepi Sungai"