Sunday, May 13, 2012

Carter Kelotok Agar Tak Telat

0

BANJARMASIN - Siswa kelas VI SDN Mantuil 4 dan SD Austral Byna di Pulau Bromo mengikuti Ujian Nasional (UN) bersama di SDN Mantuil 3, Senin (7/5). Karena terpisah sungai dan tidak ada jalan atau jembatan terhubung,  pihak sekolah sengaja mencarter kelotok agar siswa tidak terlambat sampai ke SDN Mantuil 3 yang berlokasi di Kampung Halinau.  
Kepala SDN Mantuil 4 Hilal Hamzah mengungkapkan, hal ini terjadi setiap tahun karena jumlah siswa selalu kurang dari 20 orang. Di samping itu, juga untuk memudahkan para pengawas ujian serta mempercepat pengiriman lembar jawaban siswa ke Dinas Pendidikan. Selain pada saat UN, kelotok juga disiapkan waktu try out dan ujian akhir sekolah (UAS) lalu karena pelaksanaannya juga digabung di SDN Mantuil 3. 
“Dari 16 orang siswa, ada 13 orang yang diangkut dengan kelotok. Sisanya tidak perlu naik kelotok karena tinggalnya memang di Kampung Halinau,” ujarnya. 
Sebenarnya, untuk transportasi dari Pulau Bromo ke Kampung Halinau dan sebaliknya ada jasa penyeberangan dengan kapal feri. Tapi jarak sekolah dengan dermaga feri yang dulu diperuntukkan bagi karyawan perusahaan plywood PT Austral Byna itu cukup jauh, sekitar 1,5 kilometer. Selain itu, kapal feri sering mogok sehingga dikhawatirkan mengganggu pelaksanaan UN. 
“Pulangnya dijemput lagi. Kelotok yang dicarter punya warga. Biayanya dari sekolah, anggarannya Rp 2 ribu sehari persiswa,” terang Zulkifli, guru pendamping siswa SDN Mantuil 4. 
Pada hari-hari biasa, siswa dan guru SDN Mantuil 4 yang tinggal di luar Pulau Bromo yang harus menyeberang untuk mencapai sekolah. Ada empat orang guru plus kepala sekolah, dan mereka juga mencarter kelotok karena jalan titian kayu dari dermaga ke sekolah cukup mengkhawatirkan dilewati kendaraan. Para guru dan kepala sekolah urunan mencarter kelotok dengan biaya Rp 400 ribu perbulan. 
Sedangkan untuk SD Austral Byna, sebenarnya bisa saja menyelenggarakan UN sendiri karena jumlah siswa kelas VI ada 26 orang. Tapi diungkapkan Kepala SD Austral Byna Mariati, hal itu dikhawatirkan akan menyulitkan pengawas silang dari sekolah lain untuk menjangkau sekolah. 
“Siswa berangkat naik feri karena jarak ke dermaga dekat. Tapi kami tetap siapkan kelotok kalau-kalau feri macet,” katanya.
Seperti try out hari pertama pada bulan April tadi, kapal feri yang hanya satu-satunya itu ngadat dan perlu perbaikan, walau bisa cepat diatasi. Ada 23 siswa SD Austral Byna yang ikut naik feri dengan ditemani seorang guru pendamping. Biaya transportasi sepenuhnya ditanggung sekolah. 
Sementara itu, pelaksanaan UN hari pertama di sekolah ini kemarin berjalan cukup lancar. UN tingkat SD sederajat sendiri digelar 7-9 Mei 2012. Di Banjarmasin, UN tingkat SD sederajat diikuti 241 SD dan 57 Madrasah Ibtidaiyah (MI). Jumlah peserta UN SD/MI tercatat 11.982 siswa, ditambah siswa SDLB sebanyak 14 orang.

No Response to "Carter Kelotok Agar Tak Telat"