Thursday, March 17, 2011

Mengenal Pondok Pesantren Nurul Jannah Banjarmasin

8

Pada awal berdiri, jumlah santri di pondok ini hanya terhitung dua ratusan. Kini, jumlah itu sudah berlipat-lipat hingga menjadikan pondok ini pantas disebut sebagai pondok pesantren terbesar di Banjarmasin.

Pondok yang beralamat di Jl Gerilya Gang Bambu Kelurahan Kelayan B Timur Kecamatan Banjarmasin Selatan ini dibangun pada tahun 1990. Pendirinya adalah almarhum KH Basirun Ali. Beliau juga menjadi pengasuh sekaligus pimpinan pertama pondok dari tahun 1990 sampai tutup usia pada bulan Januari 2010 lalu.

Kini, Pondok Pesantren Nurul Jannah Banjarmasin dipimpin salah satunya oleh Ustadz Edi Rahmadi.

“Saya orang yang pertama kali mendampingi beliau, dan menurut pesan beliau saya yang meneruskan memimpin pondok ini setelah beliau tidak ada,” ujarnya. Keduanya sendiri tak punya hubungan keluarga, namun selama dua puluh tahun Ustadz Edi mendapat bimbingan dari almarhum.

Tapi, ia tidak sendiri dalam memimpin pondok. Kepemimpinan dipegang oleh dua orang lainnya lagi, yakni Ustadz H Zaini dan Ustadz H Syafii, putra almarhum KH Basirun Alin.

Dituturkannya, berselang lima tahun setelah kepulangannya dari menuntut ilmu agama di Mekkah pada tahun 1985, almarhum KH Basirun Ali berjalan-jalan ke Banjarmasin dan tiba di daerah dimana Pondok Pesantren Nurul Jannah sekarang berdiri. Dulu, daerah ini dianggap angker oleh masyarakat sekitar.

“Kebetulan di daerah dekat situ ada sebuah SMP. Beliau melihat anak-anak sekolah yang suka berdua-duaan laki-laki dan perempuan, sehingga berkeinginan mendirikan pesantren di situ,” ceritanya.

Setelah berkonsultasi dengan warga dan mendapat persetujuan, akhirnya dibangunlah sebuah pondok pesantren yang kemudian diberi nama Pondok Pesantren Nurul Jannah.

“Sebelumnya bangunannya tidak seperti sekarang, waktu itu hanya ada bangunan kayu dua lantai dengan enam ruang kelas,” tuturnya.

Pada tahun 1991, Pondok Pesantren Nurul Jannah untuk pertama kalinya menerima santri baru. “Lalu didatangkanlah guru-guru. Pertama-tamanya adalah teman-teman beliau sendiri yang kuliah di Mekkah, seperti tuan guru Jamhuri, Syamsudin, Sirajuddin, dan Sam’ani. Sekarang guru-guru di sini selain lulusan Mekkah, kebanyakan merupakan alumni kami di sini,” tambahnya.

Pada angkatan pertama, ada sekitar 200 orang santri yang terdaftar.

“Ada yang bertato, nakal, macam-macam. Tapi alhamdulilah berkat kepemimpinan beliau, orang sederhana tapi mengajari kami sebagai pemimpin,” ucapnya.

Kini, jumlah santri yang mondok di pesantren ini tercatat ada 1.010 orang, terdiri dari 600 orang santri tingkat tsanawiyah dan 410 orang santri tingkat aliyah. Sebelumnya, jumlah santri ada 1.600 orang. Namun, setelah kebakaran besar yang melanda lingkungan pondok dan hampir melahap habis seluruh bangunan pada tahun 2010 lalu, banyak santri yang berhenti atau pindah ke sekolah lain.


Ingin Pasang Internet

Pondok Pesantern Nurul Jannah Banjarmasin yang pada bulan Juni 2011 mendatang genap berusia 21 tahun, merupakan pesantren salafiyah. Artinya, pondok ini lebih banyak mengajarkan kitab-kitab seperti tafsir, hadist, nahu, tauhid, sharaf, ushul hadist, faraid, dan Al-Qur’an.

“Kami sangat mengutamakan pelajaran tajwid Al-Qur’an, sesuai pesan guru kami saat ini, yaitu ulama besar dan kharismatik H Ahmad Juhdiannor atau yang lebih dikenal dengan Guru Juhdi. Beliau memesani bahwa ilmu tajwid sangat penting karena tanpa tajwid, Al-Qur’an-nya gelap. Kalau tidak pas bacaannya, salatnya tidak sah,” papar pimpinan Pondok Pesantren Nurul Jannah Banjarmasin, Ustadz Edi Rahmadi.

Pelajaran umum setiap hari setiap pagi.

Meski demikian, di sela pelajaran agama ini, disisipi pula dengan pelajaran umum sebagai pelengkap melalui program pemerintah yang disebut dengan wajar dikdas tingkat wustha untuk tsanawiyah, sedangkan yang aliyah ikut paket C.

“Dari lima jam pelajaran setiap hari, untuk pelajaran umum masing-masing kita beri alokasi waktu satu jam. Sebetulnya, dalam aturan pemerintah, pelajaran umum itu cukup tiga kali seminggu saja. Tapi supaya tidak repot, kami jadwalkan saja setiap hari,” ujarnya.

Jam pelajaran di Pondok Pesantren Nurul Jannah Banjarmasin berlangsung cukup singkat dari pagi hingga Salat Zuhur. Santri sendiri tidak menginap di pondok karena hingga saat ini pondok belum dilengkapi dengan asrama. Tadinya, pengasuh pondok sudah menyiapkan bangunan asrama. Namun, karena jumlah santri yang membeludak, asrama tersebut kemudian dialihfungsikan menjadi kelas.

“Kami sebetulnya berencana ingin membangun asrama. Ada tanah di belakang pondok yang mau dijual oleh pemiliknya, tapi sayang harganya terlalu mahal. Idealnya memang sebuah pesantren harus punya rumah santri dan rumah guru,” katanya.

Meski demikian, hal ini tidak mengurangi semangat santri dari luar daerah untuk menuntut ilmu di pondok ini, seperti dari Kabupaten Banjar dan provinsi tetangga, Kalimantan Tengah. Mereka sebagian ada yang menyewa rumah di sekitar pondok, ada pula yang tinggal di lingkungan pondok dengan menempati rumah yang dulu ditempati oleh pendiri pondok, almarhum KH Basirun Ali yang terletak di halaman depan pondok.

Di luar kegiatan belajar, para santri di Pondok Pesantren Nurul Jannah Banjarmasin juga didorong untuk mengembangkan diri dengan tersedianya beberapa kegiatan ekstrakurikuler, seperti les bahasa Arab, ceramah, tilawah, pencak silat, sampai bulu tangkis.

Namun, setelah musibah kebakaran yang terjadi pada bulan April 2010 lalu, seluruh kegiatan ini dihentikan hingga bangunan pondok benar-benar telah sempurna dan kegiatan dapat kembali normal seperti biasa. Kebakaran ini pula yang menyebabkan sejumlah fasilitas pondok lenyap seperti perpustakaan, laboratorium komputer, dan ruang jahit. Namun, perlahan-lahan bangunan yang tadinya rata dengan tanah sudah kembali berdiri.

“Kami harapkan pemerintah dapat lebih perhatian karena ke depan kami punya banyak pemikiran untuk mengembangkan pondok ini. Di antaranya kami ingin memasang internet supaya santri tahu dunia luar selain juga lulus dengan akhlak yang bagus,” harapnya.


Andalkan Usaha Jual Beli Padi

Sejak kali pertama berdiri, Pondok Pesantren Nurul Jannah Banjarmasin tidak mematok tarif yang tinggi bagi para santrinya.

Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Jannah Banjarmasin, Ustadz Edi Rahmadi menjelaskan bahwa untuk anak yatim, tidak mampu, dan anak keturunan habib, dibebaskan dari seluruh biaya. Setelah ada dana BOS, untuk santri tingkat tsanawiyah telah digratiskan seluruhnya. Sedangkan untuk santri tingkat aliyah yang mampu, hanya ditarik SPP sebesar Rp 25 ribu per bulan.

Untuk operasional pondok, termasuk gaji guru, pondok sangat terbantu dengan uluran tangan para dermawan serta sejumlah instansi yang tergerak untuk menyalurkan donasinya. Sedangkan bantun dari pemerintah daerah sendiri boleh dibilang sangat minim. Selain itu, pondok juga sangat mengandalkan pemasukan dari usaha jual beli padi melalui bantuan gudang dari Kementerian Pertanian RI.

“Gaji guru di sini mungkin paling rendah dari yang ditetapkan pemerintah. Tapi niat kami memperjuangkan agama Allah, mudah-mudahan diberi nilai ibadah,” ucapnya.


Lebih Dekat dengan Sosok KH Basirun Ali

Almarhum KH Basirun Ali lahir pada tanggal 8 Agustus 1945 di Margasari Kab Rantau. Dengan enam saudara, ia hidup dan tumbuh di keluarga yang sederhana.

Dikisahkan oleh pimpinan Pondok Pesantren Nurul Jannah Banjarmasin, Ustadz Edi Rahmadi, setelah menyelesaikan pendidikan dasar di sekolah rakyat (SR) selama enam tahun, beliau kemudian mengaji pendidikan agama di Margasari dengan sejumlah ulama, seperti tuan guru H Usman.

Selanjutnya, beliau pindah ke Martapura, tepatnya di Pondok Pesantren Darussalam dan tinggal selama enam tahun di sana. Banyak tokoh ulama yang menjadi guru beliau, seperti Salam Mulia, Salman Jalil, Husin Dahlan, Salim Ma’ruf, hingga Zaini Gani atau Guru Sekumpul.

“Dari Darussalam, beliau kemudian kembali ke kampung untuk mengajar di madrasah. Sempat pula menjadi penghulu selama tujuh tahun,” katanya.

Berangkat dari keinginan untuk menimba ilmu agama yang lebih banyak, dari Margasari beliau kemudian bertolak tanah suci Mekkah. Beliau menuntut ilmu di Pondok Pesantren Darul Ulum di daerah setempat dan berguru dengan puluhan orang ulama, seperti Syekh Yasin Alfadini, Syekh karim, Syekh Ismail Alyamani, dan lain-lain.

“Waktu tawaf, beliau senang berdoa di muka pintu baitullah. Beliau meminta agar sepulangnya ke banua ingin punya pesantren,” tuturnya.

Kebetulan, beliau pernah mendengar salah satu pendakwah pernah mengatakan bahwa apabila seseorang ingin mengislamkan orang yang sudah Islam, maka bangunlah pesantren. Hal ini membuat keinginan beliau untuk mendirikan pesantren menjadi semakin menggebu-gebu.

Pada tahun 1985, beliau menyelesaikan pendidikannya di Mekkah dan memutuskan pulang. Impian beliau untuk memiliki sebuah pesantren tak lama kemudian diwujudkan dengan mendirikan pesantren di kampung halamannya, Margasari, serta Pondok Pesantren Nurul Jannah di Banjarmasin.


Ratusan Santri Hengkang, Kembali Berdiri Setelah Delapan Bulan

Pondok Pesantren Nurul Jannah Pasca Dilanda Kebakaran

Hari Minggu itu barangkali menjadi hari yang tidak akan pernah bisa terlupakan bagi segenap warga Pondok Pesantren Nurul Jannah Banjarmasin. Ketika kegiatan belajar mengajar tengah libur dan masyarakat sekitar semuanya kebetulan sedang pergi berziarah ke Kelampayan, pada tanggal 11 April 2010 pukul 11.00, musibah kebakaran tiba-tiba melanda lingkungan pondok dan melalap hampir seluruh bangunan yang ada.

NAZAT FITRIAH, Banjarmasin

“Tidak bisa bicara apa-apa lagi pada saat itu,” ujar Ustadz Edi Rahmadi, pimpinan Ponpes Nurul Jannah Banjarmasin mengenang.

Diduga, penyebab kebakaran adalah karena aliran listrik. Hanya ada beberapa buah ruang kelas dan poskestren (pos kesehatan pesantren) yang terletak di sebelah kanan belakang, serta ruangan kantor berlantai dua yang terletak di bagian depan yang dapat diselamatkan. Selebihnya, dalam peristiwa yang sangat tidak disangka-sangka tersebut, sedikitnya 21 ruang kelas, perpustakaan, laboratorium komputer, ruang jahit, musala, serta sebuah gudang padi bantuan dari Kementerian Pertanian RI ludes dimakan api berserta seluruh isinya.

“Semua arsip sampai padi ratusan blek ikut habis,” timpalnya.

Bahkan, sebuah rumah warga yang berdempetan dengan lingkungan pondok juga ikut menjadi korban.

“Hari Minggu kami libur, dan waktu itu orang satu kampung ini kebetulan sedang ziarah ke Kelampaian. Selain itu, pemadam juga terlambat datang karena Jembatan Kelayan II masih diperbaiki, sehingga mobil mereka kesulitan masuk. Yah, tidak bisa bicara apa-apa,” tuturnya.

Akibat dari kebakaran ini, kegiatan belajar mengajar terpaksa dilakukan di halaman dengan menggunakan tenda serta menumpang di rumah-rumah warga. Karena dalam situasi darurat, aktivitas tidak bisa dilakukan seperti biasa.

“Jam 10 santri sudah pulang karena dalam situasi darurat,” katanya.

Meski musibah ini menimbulkan kerugian materi yang nilainya tidak bisa dibilang sedikit jumlahnya, namun bukan itu yang paling disesalkan oleh pengurus pesantren, melainkan banyaknya jumlah santri yang berhenti sekolah maupun pindah ke sekolah lain pasca kebakaran menimpa pondok. Santri yang tadinya berjumlah sekitar 1.600 orang, sekarang hanya tinggal 1.010 orang.

Namun, Tuhan kemudian menunjukkan sifat maha kuasanya dan memberikan pengganti yang lebih baik. Hanya dalam waktu sekitar delapan bulan, tepatnya pada bulan Desember 2010 lalu, bangunan pondok sudah kembali tegak berdiri. Ada 24 ruang kelas yang sudah siap digunakan, terdiri dari 12 kelas untuk santri putra dan 12 kelas untuk santri putri. Bahkan, bangunan yang tadinya hanya terbuat dari kayu kini berganti semen. Semua ini berkat bantuan yang terus mengalir tanpa henti dari masyarakat, pemerintah, serta jamaah pengajian-pengajian.

“Dulu dari kayu berlantai tiga, sekarang semen lantai dua saja. Kami berterimakasih kepada masyarakat, jamaah, dan pemerintah, khususnya kepada ulama yang mendoakan supaya lekas terbangun,” ucapnya.

Sisa-sisa kebakaran sendiri masih dapat terlihat, antara lain dari puing-puing kayu yang masih menumpuk di halaman. Hingga kini, lanjutnya, rehab pondok sudah menghabiskan dana sekitar Rp 1,6 miliar.

“Pelan-pelan, hasilnya inilah yang sekarang terlihat. Bangunan yang ada sekarang merupakan bantuan masyarakat, pemerintah, dan jamaah pengajian-pengajian. Alhamdulilah, ada terus yang membantu,” ucapnya.

Walau demikian, tentu masih banyak lagi dana yang dibutuhkan untuk menyempurnakan kondisi pondok karena. Misalnya, untuk menyemen halaman dan pagar saja diperkirakan dibutuhkan dana sekitar Rp 150 juta.

“Selain itu, laboratorium komputer, laboratorium IPA, perpustakaan, dan musala juga masih perlu dipikirkan,” tambahnya.

8 Response to Mengenal Pondok Pesantren Nurul Jannah Banjarmasin

July 2, 2012 at 10:45 PM

Ass WW
Mohon izin share Journalnya buat di copy paste ya ka :)
Tks

July 8, 2012 at 12:38 PM

silakan :)

January 5, 2013 at 6:19 AM

mau tanya... klo untuk yg dah lulus smk bisa g' masuk ponpes ni,,, coz ta'rufan saya cari ponpes di banjarmasin

January 5, 2013 at 6:21 AM

mau tanya ,,, klo dah lulus dari smk apa visa masuk ponpes ni,,, coz ta'rufan saya cari ponpes di banjarmasin

January 15, 2013 at 4:49 PM

kurang tau ya .. karena pesantrennya modern mungkin pake aturan kaya sekolah umum juga .. tapi kalo masuk sini ngulang lagi dong ..

January 30, 2014 at 10:27 PM

yaaa bisaaa, kebetulan sya lulusan pesatren tersebut,, nanti tetap ngulang kelas 1 tsawiyah

February 22, 2014 at 7:10 AM

@Arief Al- qatiry : terimasih kunjungannya ^^

June 11, 2014 at 11:57 PM

Semenjak kejadian itu... �� :'( uln ngerasa semua suasana berubah.. :'(